Perbedaan Antara Rokok Putih Dan Rokok Kretek

Sunday, May 16, 2010

Apa perbedaan antara rokok putih dan rokok kretek ? Setahu saya rokok putih itu jenis rokok yang murni dari tembakau tanpa bahan tambahan lain (contoh : Marlboro), sedangkan pada rokok kretek, selain tembakau dicampurkan juga cengkeh (contoh : rokok-rokok keluaran PT Djarum seperi Djarum Black dan Djarum Black Slimz). Kebanyakan perokok memilih salah satu dari kedua jenis tersebut. Jarang yang menghisap kedua-duanya, tetapi ada juga yang bisa menikmati keduanya, walaupun secara persentase sangat kecil.

tak-disangka.blogspot.com

Berdasarkan hasil riset, ternyata dari segi pangsa pasarnya, kedua rokok ini pun memiliki perbedaan yang mencolok antara lain :

Di Indonesia, rokok kretek lebih populer. Perbandingannya, sebanyak 94 persen merokok kretek dan hanya 11 persen yang memilih rokok putih. Perokok putih dalam jumlah paling tinggi ada di Medan dan Denpasar. Meski di kedua kota itu, tetap rokok kretek mencapai persentase lebih besar. Cuma dibandingkan dengan kota-kota lain yang jumlahnya minim, kedua kota tersebut merupakan tertinggi.

Dalam hal konsumsi per hari, perokok putih lebih tinggi dibandingkan perokok kretek. Rata-rata perokok putih menghabiskan 20 batang per hari, sedangkan perokok kretek dalam sehari mengisap sebungkus rokok saja sekitar 12 batang.

Dari kelas sosialnya, perokok kretek umumnya kelas menengah sedangkan perokok putih dari golongan menengah ke atas. Dari usia dan kelas sosial pun akhirnya mengarahkan ada perbedaan gaya hidup antara kedua perokok ini.
Sesuai dengan merek asalnya, konsumen rokok putih ternyata lebih western minded sedangkan perokok kretek lebih tradisional. Yang dimaksud dengan tradisional, mereka masih mempertimbangkan soal harga, tidak melihat merek. Artinya masih senang pada barang yang murah.

Para perokok putih yang kebanyakan kelompok menengah ke atas mempunyai kesempatan untuk menonton film di bioskop lebih besar (36 persen) dibandingkan perokok kretek (15 persen). Terjadi perbedaan mencolok pada penggunaan internet, perokok putih mencapai 28 persen sedangkan perokok kretek cuma enam persen. Jelas, ini memang menyangkut kelas sosial tersebut.

Media juga menjadi tolok ukur dalam gaya hidup para perokok. Terlihat sekali perokok putih mencatat persentase lebih besar pada kegiatan membaca harian (57 persen) dibandingkan perokok kretek (32 persen).

Begitulah secara garis besar perbedaan kelas antara perokok putih dan kretek. Mau beralih ke rokok putih agar lebih terlihat gaya?

Rokok Putih tidak lebih Aman daripada Rokok Kretek

Lihatlah iklan di televisi setelah pukul 21.00. Rokok putih begitu gencar berkampanye. Kampanye itu ternyata berhasil memikat banyak orang. Dengan klaim sepihak “Lebih ringan” berhasil meyakinkan orang untuk menikmati rokok putih. Padahal kenyataan sebenarnya tidaklah demikian. “rokok putih ataupun rokok kretek sama bahayanya”. Kata Dr.Asrul Harsal, SpPD-KHOM.
Rokok putih pun tidak mengandung zat berbahaya yang lebih sedikit daripada rokok biasa. Karena itu klaim “lebih ringan” adalah menyesatkan. Ini saya kutip habis dari majalah kesehatan keluarga, Dokter kita edisi 11-THN II-Nopember 2007.

Hal itu benar temans sudah ada faktanya. Kakak ipar saya dulunya pengkonsumsi rokok putih, iseng mengunjungi dokter paru, hanya ingin mengetahui sekaligus membuktikan. Ternyata hasil pemeriksaan/scan didapatkan flek pada parunya, kondisinya pun sangat berbeda dengan contoh paru yang bebas dari asap rokok. Karena khawatir dengan apa yang akan terjadi kedepannya, ia berkeinginan untuk berhenti.

Berhenti bukanlah usaha tanpa perjuangan, beliau pun tersiksa dalam menjalankan terapi karena harus berpisah dari rokok untuk beberapa bulan. Sebelumnya ia adalah pembela fanatik kenikmatan rokok, mulai dari mengisap rokok untuk meringankan pikiran, memunculkan ide hingga penyempurna rasa setelah makan. Namun sekarang semua itu berbalik. Menurutnya, semua terasa lebih baik setelah berhenti total dan jauh dari asap rokok, nafsu makan pun bertambah dan badan jauh lebih fit and fresh. Bukan kakak ipar saya saja yang berhasil berhenti, seorang “preman” yang sekarang sudah tidak jadi “preman” lagi juga berhasil ko. Susah bukan berarti gak bisa kan?

Betapa susahnya berhenti merokok, juga teramat sering saya dengar dari bapak-bapak, abang-abang yang pernah menjadi patner saya menguli (baca:kuli) dulu, juga dari teman-teman lainnya, tidak laki-laki dan perempuan perokok yang ingin berhenti merokok. Berat, jika harus jauh dari lintingan tembakau itu. dibidang ini, selain cerita di paragraf dua dan tiga. Maka tulisan kali ini saya ambil dari majalah kesehatan keluarga, Dokter kita.

TROBOSAN BARU SUPAYA BERHENTI MEROKOK

Keluhan yang sering muncul pada perokok yang mau berhenti adalah beratnya mengatasi ketergantungan. Belum lagi dampak yang timbul pasca berhenti merokok, lemas bad mood, sulit kosentrasi dan pusing. Alhasil perjuangan untuk berhenti merokok pun terkjadang hanya setengah jalan.

Kini perokok yang ingin berhenti dapat terbantu dengan hadirnya verenicline, yakni obat non nikotin pertamayang secara khusus diciptakan untuk berhenti merokok. Obat tersebut telah diluncurkan di Amerika sekitar pada tahun 2006. Tahun ini, obat tersebut resmi beredar di Indonesia. Obat itu hadir sebagai upaya memerangi rokok yang berdampak baru bagi kesehatan. Apalagi menurut survei Indonesia merupakan negara dengan jumlah perokok laki-laki paling besar yaitu 69%.

Menurut Dr. Irwan Rustandi, verenicline memiliki cara kerja yang unik dan berbeda dengan produk berhenti merokok lainya, seperti nicotine replacement theraphy (NRT) dan bupropion. NRT bekerja dengan menggantikan kebutuhan nikotin perokok yang biasanya diperoleh dari rokok. NRT mungkin tidak mensuplai nikotin. Lain halnya dengan verenicline yang bukan merupakan terapi pengganti nikotin dan tidak mengandung nikotin.

KERJA NIKOTIN

Saat merokok, nikotin mulai diserap aliran darah dan diteruskan ke otak. Nikotin terikat di reseptor nikotinat antikolinergik 42 di ventral tegmental area (VTA). Nikotin yang terikat di reseptor 42 akan melepaskan dopamin di nucleus accumbens (nAcc). Dopamin itulah yang diyakini menimbulkan perasaan tengan dan nyaman. Tak heran bila perokok akan kembali merokok untuk memperoleh efek nyaman itu.

Bila perokok mulai mengurangi atau berhenti merokok maka asupan nikotin berkurang dan pelepasan dopamin juga berkurang, akibatnya timbul gejala putus obat berupa iritabilitas dan stress.

Hal itu menyebabkan jalan untuk berhenti merokok menjadi sulit karena rasa ketagihan terhadap nikotin. Peran verenicline berfungsi sebagai pemutus rantai adiksi. Biasanya nikotin berikatan dengan reseptor 42, namun nanti yang akan berkaitan dengan reseptor 42 adalah verenicline yang bekerja dengan dua cara. Pertama, verenicline menstimulasi reseptor untuk melepaskan dopami secara pasrial, tujuanya untuk mengurangi gejala putus obat berupa pusing, sulit berkosentrasi atau badmood yang ditimbulkan dari proses berhenti merokok.

Kedua, verenicline menghalangi nikotin yang menempel di reseptor. Jadi bila merokok kembali, nikotin tidak dapat menempel di reseptor, sehingga mengurangi rasa nikmat dari rokok tersebut. =Verenicline dapat diberikan pada perokok dewasa atau minimal usia 18 tahun yang ingin berhenti merokok. Verenicline dapat diberikan pada perokok berat maupun ringan. Dosis awal yang diberikan ringan yang ditingkatkan secara perlahan-lahan. Untuk mencapai kesembuhan berhenti merokok, dibutuhkan waktu selama tiga bulan, baik bagi perokok berat atau ringan.

Efek samping verenicline adalah mual, nyeri kepala, insomnia dan mimpi abnormal. Meski demikian, manfaat yang ditimbulkan dari berhenti merokok jauh lebih besar karena dalam sebatang rokok terkandung lebih dari 4 ribu bahan kimia dan 250 zat karsinogenik.

Bahkan bahan kimia yang ditemukan pada asap tembakau (rokok) seperti aseton, butan, arsenic, cadmium, karbon monoksida dan toluene sama seperti yang ditemukan pada bahan industri. Jadi dapat dibayangkan bukan dampak buruk rokok?. **DK; Feny Apriyanti.

.::Artikel Menarik Lainnya::.

0 Comments:

 
FaceBlog © Copyright 2009 Iseng - Iseng Nge'Blog | Blogger XML Coded And Designed by Otto Aristho